GOWA — Pemerintah Kabupaten Gowa menunjukkan keseriusannya dalam menekan angka stunting sekaligus mencegah praktik kawin anak.
Lewat kolaborasi lintas sektor, upaya ini digaungkan dalam kegiatan Halal Bihalal dan Sosialisasi Cegah Kawin Anak dan Stunting di Baruga Tinggimae, Rumah Jabatan Bupati Gowa, Kamis (9/4).
Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menegaskan bahwa persoalan kawin anak dan stunting bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman nyata bagi masa depan generasi.
“Hari ini kita sedang menentukan arah masa depan Gowa. Kawin anak dan stunting bukan hanya data di atas kertas, tetapi persoalan mendasar yang menentukan apakah generasi kita akan kuat atau justru rapuh,” ujarnya.
Ia menyoroti keterkaitan erat antara pernikahan usia dini dan risiko stunting.
Menurutnya, kawin anak kerap memutus akses pendidikan dan memaksa anak memikul tanggung jawab sebelum waktunya, sekaligus membuka peluang lahirnya generasi dengan kondisi gizi buruk.
“Kawin anak menciptakan lingkaran masalah. Pendidikan terhenti, kesiapan mental belum matang, dan pada akhirnya berisiko melahirkan anak stunting. Ini rantai yang harus kita putus sekarang,” tegasnya.
Di lapangan, fenomena pernikahan di bawah umur masih ditemukan, bahkan dalam kondisi kehamilan.
Karena itu, Bupati meminta peran aktif Kantor Urusan Agama (KUA) untuk lebih masif memberikan edukasi hingga ke wilayah terpencil.
“Jika kita diam, kita ikut bertanggung jawab. Jika kita abai, kita sedang mempertaruhkan masa depan Gowa,” tambahnya dengan nada serius.
Lebih jauh, ia mengingatkan dampak jangka panjang stunting terhadap kualitas sumber daya manusia.
Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan belajar rendah, produktivitas terbatas, hingga kalah dalam persaingan di masa depan.
Untuk itu, seluruh elemen masyarakat, terutama kelompok perempuan dan Majelis Ta’lim, diajak menjadi motor perubahan sosial.
“Perang melawan kawin anak dan stunting bukan hanya tugas pemerintah. Ini tugas bersama. Menikah harus siap, bukan sekadar cepat. Anak harus tumbuh sehat, bukan sekadar tumbuh,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga memaparkan sejumlah program prioritas daerah, mulai dari Gowa Annangkasi (Bersih), Gowa Caradde (Cerdas) melalui Gerakan Gowa Mengaji, Gowa Masunggu (Sejahtera), Gowa Salewangan (Sehat), hingga Gowa Masannang (Aman).
Sementara itu, Ketua Panitia, Fatmawati, menekankan pentingnya perhatian pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase krusial dalam mencegah stunting.
“Peran organisasi perempuan dan Majelis Ta’lim sangat strategis dalam menyosialisasikan pencegahan kawin anak dan stunting demi terwujudnya Gowa Maju,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Gowa, Jamaris, menyatakan komitmennya memperluas kolaborasi hingga ke tingkat desa dan kelurahan dengan melibatkan PKK, Dharma Wanita, dan Majelis Ta’lim.
Ia mengakui, tantangan di lapangan masih cukup kompleks, mulai dari faktor budaya hingga kekhawatiran orang tua dalam menolak lamaran yang kerap mendorong terjadinya pernikahan dini.
“Ini tantangan bersama. Karena itu, kegiatan seperti ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat kesadaran masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Andy Azis Peter, bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Gowa, Suryanti Andy Azis, para pimpinan SKPD, serta sekitar 700 peserta dari berbagai organisasi perempuan dan unsur masyarakat.

Tinggalkan Balasan