MATASULSEL.ID, MAKASSAR – Upaya meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran di wilayah perairan strategis terus dilakukan oleh PT Pelindo Jasa Maritim (SPJM).
Perusahaan yang merupakan subholding jasa kemaritiman dari PT Pelabuhan Indonesia (Persero) ini kembali menunjukkan komitmennya melalui pemasangan dua teknologi navigasi penting di kawasan Sungai Mahakam, yakni Port Entry Light (PEL) dan sistem sensor monitoring kondisi perairan di sekitar Jembatan Mahakam.
Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan keselamatan pelayaran, khususnya bagi kapal-kapal yang melintasi kolong jembatan di salah satu jalur perairan tersibuk di Kalimantan Timur tersebut.
Dengan kondisi alur pelayaran yang relatif sempit serta arus lalu lintas kapal yang cukup padat, keberadaan teknologi navigasi modern menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan di kawasan tersebut.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen SPJM dalam mendukung sistem pemanduan kapal yang lebih aman, akurat, dan efisien bagi para nahkoda dan perwira pandu yang bertugas di perairan Sungai Mahakam.
Salah satu teknologi utama yang telah dipasang adalah Port Entry Light (PEL). Perangkat navigasi ini mulai dipasang sejak September 2024 sebagai bagian dari peningkatan standar keselamatan pelayaran di kawasan tersebut.
PEL merupakan lampu suar navigasi berintensitas tinggi yang berfungsi untuk memandu kapal saat memasuki pelabuhan atau melintasi jalur pelayaran tertentu, termasuk saat melewati kolong jembatan.
Lampu navigasi ini dirancang untuk membantu kapal menentukan jalur yang aman, terutama pada kondisi malam hari atau saat jarak pandang terbatas akibat cuaca buruk maupun kabut.
Keberadaan PEL memungkinkan nahkoda kapal melihat dengan lebih jelas arah jalur pelayaran, posisi kapal, serta potensi bahaya yang mungkin muncul di sekitar lintasan.
Dengan teknologi ini, jalur pelayaran di sekitar Jembatan Mahakam dapat ditandai secara visual sehingga kapal dapat melintas dengan lebih terarah dan aman.
Selain itu, lampu navigasi tersebut juga membantu identifikasi sisi alur pelayaran, sehingga kapal dapat mempertahankan posisi yang tepat ketika melewati area yang relatif sempit.
Direktur Operasi dan Teknik SPJM, Edward DN Napitupulu, menjelaskan bahwa penggunaan Port Entry Light telah lama menjadi standar keselamatan di banyak pelabuhan internasional yang memiliki karakteristik lalu lintas kapal yang padat.
Menurutnya, teknologi ini sangat relevan diterapkan di perairan Sungai Mahakam yang memiliki tantangan tersendiri dalam proses pemanduan kapal.
“Kami telah melakukan beberapa riset dan Port Entry Lights memang sudah sangat banyak digunakan di pelabuhan-pelabuhan internasional yang sibuk, memiliki alur pelayaran sempit, atau memiliki lalu lintas padat. Lampu ini menjadi standar keamanan krusial untuk memandu kapal memasuki pelabuhan dengan aman, baik siang maupun malam,” jelas Edward.
Ia menambahkan bahwa kondisi pelayanan pemanduan kapal yang harus melintasi kolong Jembatan Mahakam memang cukup menantang.
Oleh karena itu, SPJM berinisiatif memasang PEL sebagai langkah strategis untuk membantu para nahkoda dan perwira pandu dalam menentukan posisi kapal secara lebih akurat.
“Karakteristik pelayanan pemanduan kolong jembatan di perairan Sungai Mahakam memang cukup menantang, sehingga kami berinisiatif memasang PEL sebagai salah satu upaya mempermudah nahkoda kapal dan perwira pandu mengetahui posisi mereka di jalur yang benar sehingga kapal dapat melintas dengan aman,” lanjutnya.
Selain memasang lampu navigasi, SPJM juga melakukan peningkatan sistem pengawasan kondisi perairan melalui pemasangan sensor monitoring perairan di sekitar Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahulu.
Teknologi ini mulai dipasang pada Januari 2026 dan dirancang untuk memberikan informasi real-time mengenai kondisi arus sungai serta jarak antara permukaan air dengan struktur jembatan.
Sensor tersebut mampu mengukur kecepatan arus sungai serta clearance jembatan, yakni jarak antara permukaan air sungai dengan bagian bawah konstruksi jembatan.
Informasi ini sangat penting bagi kapal yang memiliki tinggi muatan tertentu agar dapat memastikan bahwa kapal dapat melintas dengan aman tanpa risiko menyentuh struktur jembatan.
Data yang dihasilkan oleh sensor kemudian ditampilkan melalui monitor display yang dipasang pada railing Jembatan Mahakam.
Dengan demikian, para pengguna jasa pelayaran maupun petugas terkait dapat melihat secara langsung kondisi perairan di lokasi tersebut.
Tidak hanya itu, SPJM juga memasang sensor khusus di stasiun pandu dekat Jembatan Mahulu yang berfungsi untuk memantau ketinggian muatan kapal menggunakan teknologi laser range finder.
Alat ini memungkinkan pengukuran jarak secara presisi sehingga dapat mendeteksi jika muatan kapal melebihi batas ketinggian yang diperbolehkan oleh regulasi pelayaran.
Seluruh data dari sensor tersebut terintegrasi dalam sistem dashboard monitoring berbasis web yang dapat diakses oleh petugas terkait.
Melalui sistem ini, informasi mengenai kondisi arus sungai, clearance jembatan, serta status ketinggian muatan kapal dapat diperbarui secara berkala setiap satu menit.
Sistem monitoring ini juga dilengkapi dengan fitur notifikasi peringatan atau alert apabila terdapat kapal dengan muatan yang melebihi batas yang telah ditetapkan dalam regulasi. Dengan demikian, langkah pencegahan dapat segera dilakukan sebelum kapal melintasi area jembatan.
Edward menegaskan bahwa kehadiran teknologi sensor dan sistem monitoring tersebut akan sangat membantu proses pemanduan kapal di kawasan Sungai Mahakam.
Informasi yang akurat dan real-time memungkinkan para perwira pandu serta nahkoda kapal mengambil keputusan dengan lebih cepat dan tepat.
“Sensor ini akan sangat membantu dalam memberikan informasi bagi perwira pandu dan nahkoda saat melakukan pemanduan kapal dengan akurat, aman, dan efisien, terutama saat proses olah gerak,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa sistem monitoring tersebut juga akan meningkatkan situational awareness bagi seluruh pihak yang terlibat dalam aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
Dengan mengetahui kondisi perairan secara real-time, proses navigasi kapal dapat dilakukan dengan tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi.
“Dengan adanya alat sensor dan monitoring ini juga akan memberikan kesadaran situasional yang tinggi bagi nahkoda kapal dan perwira pandu, memastikan navigasi pelayaran di perairan terbatas yaitu ruang bawah Jembatan Mahakam dapat dilaksanakan dengan selamat, tertib, dan lancar,” tambahnya.
Perairan Sungai Mahakam sendiri merupakan jalur transportasi penting yang digunakan oleh berbagai jenis kapal, mulai dari kapal logistik, kapal industri, hingga kapal pengangkut komoditas dari wilayah Kalimantan Timur.
Aktivitas pelayaran yang cukup tinggi membuat pengelolaan keselamatan navigasi menjadi hal yang sangat krusial.
Karena itu, inovasi teknologi seperti Port Entry Light dan sistem sensor monitoring dinilai dapat menjadi solusi strategis untuk meningkatkan standar keselamatan pelayaran di kawasan tersebut.
Langkah SPJM ini juga mencerminkan komitmen perusahaan dalam melakukan perbaikan berkelanjutan atau continuous improvement terhadap layanan operasional yang diberikan kepada pengguna jasa pelabuhan dan pelayaran.
Keselamatan pelayaran, menurut perusahaan, merupakan tujuan utama yang harus selalu menjadi prioritas dalam setiap aktivitas operasional di sektor maritim.
Oleh sebab itu, SPJM terus mendorong penggunaan teknologi modern yang mampu mendukung sistem navigasi yang lebih aman dan efisien.
Melalui penerapan teknologi navigasi dan sistem monitoring berbasis data ini, SPJM berharap aktivitas pelayaran di Sungai Mahakam dapat berlangsung dengan lebih tertib dan minim risiko.
Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat standar keselamatan maritim nasional, khususnya di wilayah perairan strategis Indonesia.


Tinggalkan Balasan