MATASULSEL.ID, JAKARTA — Februari identik dengan bunga, cokelat, dan berbagai rencana manis bersama pasangan. Namun di balik perayaan bulan kasih sayang, ada isu ekonomi yang tak kalah penting: kesiapan finansial generasi muda Indonesia.
Data OCBC Financial Fitness Index 2025 menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Hanya 19% generasi muda yang memiliki dana darurat jika kehilangan pekerjaan.
Angka ini bahkan turun 6% dibanding tahun sebelumnya yang berada di level 25%. Artinya, sebagian besar anak muda Indonesia masih hidup dari gaji ke gaji tanpa bantalan keuangan (safety net) yang memadai.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa risiko finansial masih menjadi ancaman nyata. Dalam situasi tak terduga seperti pemutusan hubungan kerja, sakit, atau kebutuhan mendesak keluarga, ketiadaan dana darurat bukan hanya memicu tekanan ekonomi, tetapi juga dapat berujung pada tekanan emosional dan konflik dalam hubungan pribadi.
Meski demikian, kesadaran terhadap pentingnya perencanaan keuangan sebenarnya mulai tumbuh. Survei yang sama mencatat 54% generasi muda percaya bahwa perencanaan finansial adalah salah satu kunci sukses, meningkat 8% dibanding tahun lalu. Sayangnya, peningkatan kesadaran ini belum sepenuhnya diikuti dengan aksi nyata.
Masalah mendasar lainnya terletak pada pengelolaan arus kas pribadi. Sebanyak 77% masyarakat Indonesia belum mencatat keuangan secara rutin. Tanpa pencatatan, pengeluaran sulit terkontrol dan kebocoran finansial sering kali tidak disadari.
Akibatnya, kebiasaan menabung sulit terbentuk, bukan semata karena penghasilan yang kurang, melainkan karena kurangnya kontrol terhadap arus uang.
Secara ekonomi, kondisi ini mencerminkan tantangan literasi dan disiplin finansial yang masih perlu diperkuat. Dana darurat bukan sekadar menumpuk uang di rekening, melainkan bagian dari strategi pengelolaan risiko keuangan.
Idealnya, dana tersebut ditempatkan pada instrumen yang aman, likuid, dan tetap memberikan imbal hasil agar nilainya tidak tergerus inflasi.
Melihat peluang tersebut, sektor perbankan dan layanan keuangan digital pun berlomba menghadirkan solusi yang lebih praktis dan relevan bagi generasi muda.
Salah satunya melalui aplikasi mobile banking yang terintegrasi dengan fitur perencanaan keuangan.
OCBC, misalnya, menghadirkan OCBC Mobile dengan konsep #FUNanciallyFIT yang mendorong pengguna mengelola keuangan secara lebih fleksibel dan menyenangkan.
Aplikasi ini menawarkan berbagai fitur seperti bebas biaya transaksi, tabungan hingga 12 mata uang dalam satu rekening, serta fasilitas menabung emas dengan auto debit mulai Rp10 ribu.
Selain itu, tersedia pula fitur gaya hidup seperti penukaran Poinseru untuk mendapatkan produk pilihan, hingga kemudahan transaksi luar negeri tanpa biaya konversi melalui OCBC Global Debit.
Beragam promo transaksi domestik dan internasional melalui kartu debit, kredit, maupun QRIS juga menjadi bagian dari strategi menarik minat generasi digital.
Momentum bulan kasih sayang pun dapat dimaknai lebih luas, bukan hanya soal memberi hadiah, tetapi juga menghadirkan rasa aman melalui perencanaan keuangan yang matang.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika pasar kerja, fondasi finansial yang kuat menjadi bentuk kepedulian jangka panjang—baik untuk diri sendiri maupun orang terdekat.
Dengan data yang menunjukkan masih rendahnya kepemilikan dana darurat, tantangan terbesar kini bukan lagi soal kesadaran, melainkan konsistensi dalam merealisasikan perencanaan keuangan.
Sebab pada akhirnya, stabilitas ekonomi pribadi adalah bagian tak terpisahkan dari kualitas hidup dan ketahanan rumah tangga di masa depan.


Tinggalkan Balasan