MATASULSEL.ID, JENEPONTO – Peringatan Isra’ Mi’raj yang diperingati oleh umat Islam setiap tahun memiliki makna yang sangat dalam, tidak hanya sebagai sebuah ritual keagamaan, tetapi juga sebagai momentum refleksi dan pembelajaran bagi kehidupan sehari-hari.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Kabupaten Jeneponto, Arifuddin Lau, yang memberikan pandangan komprehensif mengenai makna dan relevansi peristiwa Isra’ Mi’raj dalam konteks spiritual, sosial, dan profesi jurnalistik.

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa monumental dalam sejarah Islam, dimana Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan spiritual luar biasa mulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan kemudian naik hingga ke langit ketujuh untuk bertemu langsung dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha.

Peristiwa ini menjadi simbol kehormatan dan kedekatan Nabi kepada Tuhan, sekaligus menandai penetapan syariat shalat sebagai tiang agama yang wajib dilaksanakan umat Islam.

Menurut Arifuddin, Isra’ Mi’raj mengajarkan umat Islam untuk terus memperkokoh iman dan takwa serta berpegang teguh menjalankan perintah agama, terutama ibadah shalat yang menjadi pondasi dan penguat spiritual.

“Isra’ Mi’raj adalah momentum bagi kita untuk merenungkan kembali kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan sebagai pengingat agar kita semakin taat beribadah serta meningkatkan kualitas spiritual dan moral kita,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Tak hanya aspek spiritual, Arifuddin juga menyoroti nilai sosial dan moral yang terkandung dalam peringatan Isra’ Mi’raj. Dalam realitas kehidupan masyarakat masa kini, semangat perjuangan dan keteguhan hati—yang diperlihatkan oleh Nabi dalam perjalanan suci tersebut—harus menjadi teladan dalam menghadapi berbagai tantangan. Hal ini sangat relevan dalam dunia jurnalistik yang menuntut integritas, keberanian menyampaikan kebenaran, serta tanggung jawab moral yang tinggi.

“Sebagai wartawan yang tergabung dalam JOIN, peringatan Isra’ Mi’raj menjadi pengingat penting untuk selalu menjaga integritas dan berpegang pada nilai-nilai kebenaran,” tutur Arifuddin.

Ia menegaskan bahwa para jurnalis harus berani melawan segala bentuk ketidakadilan dan menyampaikan fakta dengan berani serta etis. Sifat-sifat kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan yang dipelajari dari perjalanan Nabi dalam Isra’ Mi’raj juga harus diaplikasikan dalam profesi jurnalistik.

Tidak kalah penting, Arifuddin mengajak seluruh masyarakat Jeneponto untuk memperkuat nilai persatuan dan kesatuan melalui spirit Isra’ Mi’raj.

“Momentum ini sebaiknya menjadi titik awal untuk meningkatkan solidaritas, menumbuhkan toleransi, serta memperkokoh rasa kebersamaan dalam bingkai keberagaman kita,” pesan Arifuddin dengan penuh harap.

Terakhir Ketua JOIN Jeneponto, berharap peringatan Isra’ Mi’raj tidak hanya berhenti sebagai ritual tahunan, tetapi juga menjadi momentum perubahan positif yang memberikan inspirasi dan motivasi bagi umat Islam di Jeneponto dan Indonesia secara luas untuk senantiasa meningkatkan keimanan, memperkokoh persatuan, dan mengedepankan kejujuran serta keadilan dalam setiap aspek kehidupan.(*)