MAKASSAR – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Konferensi Wilayah (Konferwil) XVI di Asrama Haji Sudiang, Makassar, 13–15 Februari 2026, sabtu(14/02/2026).

Forum Konferwil tahun ini mengusung tema “Digdaya Ansor Menuju Kedaulatan Pangan”, menandai arah baru konsolidasi organisasi sekaligus penegasan peran kader dalam isu strategis nasional.

Konferwil dibuka secara resmi oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang diwakili Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sulsel, Andi Munawir, mewakili Gubernur Sulsel.

Dalam sambutannya, Andi Munawir menekankan pentingnya peran pemuda, khususnya GP Ansor, dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat persatuan bangsa.

“Kehadiran GP Ansor memiliki peran penting. Karena pemuda merupakan pemegang estafet bangsa dan aset negara. Oleh karena itu, GP Ansor diharapkan mampu memberikan harapan persatuan, menangkal radikalisme dan ekstremisme, serta meningkatkan kualitas masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kader Ansor harus adaptif menghadapi dinamika sosial yang terus berubah, memiliki visi jelas, serta mampu menjawab tantangan zaman dengan gagasan yang solutif.

Konferwil XVI turut dihadiri Wakil Ketua Umum GP Ansor Pusat, Muh Mabrur. Ia menyebut forum tersebut bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan momentum memperkuat soliditas dan kesehatan organisasi.

“Konferwil ini tentu mengedepankan guyup kekeluargaan, konferensi itu adalah ajang pergantian asosiasi kepemimpinan, tapi alhamdulillah kita masih bercanda-bercanda meskipun tentu teman-teman punya referensi terkait pemilihan masing-masing,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa GP Ansor Sulsel saat ini masuk dalam kategori akreditasi A di tingkat nasional.

“Saya kira GP Ansor Sulsel ini masuk akreditasi A, jadi kita di pimpinan pusat itu, semua tingkatan punya akreditasi, terkait sejauh mana sehat dan suksesnya organisasi itu sendiri,” katanya.

Menurutnya, perkembangan organisasi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Jika sebelumnya ada kader yang merasa kurang percaya diri mengenakan atribut organisasi, kini justru kebanggaan terhadap Ansor semakin menguat.

“Dulu beberapa tahun yang lalu beberapa anggota bahkan sampai sempat malu mengenakan atribut milik GP Ansor ini, namun saat ini bisa kita lihat sahabat-sahabat merasa bangga, bahkan yang bukan kader pengen atau mau untuk menjadi bagian dari GP Ansor,” ungkapnya.

Ia menilai penerimaan publik terhadap Ansor semakin luas karena orientasi pengabdian organisasi yang nyata di tengah masyarakat.

“Artinya apa, GP Ansor itu sudah sangat diterima masyarakat, karena memang orientasinya saya kira bagaimana bisa bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya di internal saja, jadi ada beragam macam pengabdian yang menjadi amanah dari organisasi,” lanjutnya.

Mabrur berharap Konferwil XVI dapat menjadi momentum evaluasi dan lompatan kemajuan organisasi di Sulawesi Selatan.

“Jadi diharapkan Konferwil ini menjadi evaluasi yang baik, sebagai organisasi hari ini tentu kita harapkan pimpinan wilayah memang sudah bagus, tentu kita mau yang lebih bagus lagi, lebih progresif lagi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua GP Ansor Sulsel, Rusdi Idrus, menjelaskan bahwa pemilihan tema kedaulatan pangan bukan tanpa alasan. Tema tersebut merupakan turunan dari program prioritas pimpinan pusat yang harus disinergikan hingga ke tingkat cabang.

“Untuk tema turunan dari apa yang menjadi program prioritas dari pimpinan pusat, sehingga ini harus disinergikan. Mulai dari pimpinan pusat, ke pimpinan wilayah hingga pimpinan cabang,” ujarnya.

“Apa yang menjadi gagasan besar dari pimpinan pusat ini bisa terimplementasi ke bawah,” lanjutnya.

Rusdi menekankan bahwa isu ketahanan pangan merupakan tantangan global yang perlu diantisipasi sejak dini. Menurutnya, organisasi kepemudaan harus memiliki kesiapan menghadapi potensi krisis pangan di masa depan.

“Tentu juga sinergi dengan program pemerintah pusat hingga pemerintah daerah, sehingga isu soal ketahanan pangan memang menjadi isu hingga ke bawah-bawah. Kita harus menyiapkan diri ketika nanti mengalami krisis pangan, sehingga ini harus disiapkan sedari dulu, karena dunia hari ini bergerak terus dan salah satu yang diprediksi adalah isu soal pangan, sehingga kita tidak kaget ketika nanti tiba-tiba krisis pangan, sehingga ini kita harus disiapkan lewat GP Ansor,” katanya.

Ia menilai kekuatan jaringan kader Ansor yang tersebar luas menjadi modal besar dalam menggerakkan program berbasis masyarakat.

“Ansor secara organisasi memiliki sangat banyak kader, sehingga ini sangat efektif untuk kita lakukan,” ujarnya.

Terkait dinamika pemilihan kepemimpinan wilayah, Rusdi menegaskan pentingnya menjaga soliditas organisasi pasca-Konferwil.

“Siapa pun yang terpilih harus menjaga satu komando dan satu barisan, tegak lurus kepada ketua umum (pusat). Kemudian menjaga ulama kita, program turunan pusat yang menjadi visi bersama itu harus ditindaklanjuti, disamping meyiapkan program-program yang sesuai dengan konteks daerah,” tegasnya.

Ia menutup dengan menekankan perlunya pembenahan berkelanjutan agar GP Ansor tetap relevan sebagai organisasi modern yang responsif terhadap perkembangan zaman.

“Intinya GP Ansor ini harus berbenah mengikuti perkembangan zaman untuk menjadi organisasi yang modern,” tutupnya. (Farez)