Matahari senja sebentar lagi memeluk malam. Di sebuah cafe di Jalan A Mappanyukki Makassar, mengalun dua nomor berturut-turut.
Sailong dan Atiraja, didendangkan dengan merdunya, meski tanpa kata. Komposisi instrumentalia itu bukan terdengar dari meja vinyl melainkan dimainkan secara live oleh Mangara Mangara Jazz Project, pertengahan 2014 silam.
Dua belas tahun masa berganti, Sailong dan Atiraja seolah membuat rasa kita enggan berpeluk dengan detak waktu hari-hari ini. Mereka justru terus menggoda hati untuk berpaling lebih jauh ke belakang.
Ho Eng Djie. Sebuah nama yang melegenda. Kota Makassar, penikmat lagu daerah, dan pecinta kesetaraan dan toleransi pernah merasakan vibe positif seorang Eng Djie (1906 – 1960).
Nama Eng Djie tak cuma mewangi di kalangan warga Tionghoa keturunan tapi juga di antara kerinduan orang Makassar akan lagu-lagu berlirik bahasa ibu.
Pemuda Eng Djie menjadikan dua kutub saling bergandeng tangan. Antara kalangan warga masyarakat Tionghoa dan orang Bugis-Makassar. Dua entitas ini, berkat Eng Djie, dapat saling berdekap di atas partitur yang sama dan melahirkan harmoni menyejukkan hati.
Pundak dan tangan dingin Ho Eng Djie menjadi jembatan budaya berbeda, yang biasa disebut dengan asimilasi. Fisiknya memang Tionghoa tapi hati dan jiwanya sungguh sangat “meng-mangkasara”.
Kemampuan sang maestro menggubah lagu dalam lirik bahasa Makassar yang puitis, romantis dan filosofis membuat dirinya perlahan, meruntuhkan sekat-sekat perbedaan. Ia membuktikan “berbeda itu indah” tidak cuma indah di lidah tapi juga syahdu dalam perilaku.
Sailong dan Atiraja, (1950-an) dua dari sekian belas lagu hasil gubahan Ho Eng Djie yang hingga kini terus melekat di sanubari.
Sailong, yang berarti sayang-sayang, terasa bernuansa melankolik. Ia, tak cuma bicara tentang kerinduan yang mendalam melainkan pula soal kesetiaan, sesuatu yang tak mudah ditemukan pada era digital dan serba instan.
Kata demi kata di setiap lariknya mengungkapkan perasaan seseorang yang terombang-ambing oleh rindu. Bagai sebuah biduk yang tengah mencari dermaga terakhirnya.
Di arus yang terdalam ada kepasrahan yang bertunas di sana. Terdapat rasa sayang dan cinta yang sedang membuncah.
Tulus. Ikhlas. Rela.
Dalam konteks budaya, Sailong juga sering dipandang sebagai refleksi atas perjalanan hidup seorang anak manusia. Berkelok. Penuh onak dan pengorbanan.
Sementara Atiraja, memilih tema yang lebih transendental: spiritual dan filosofis berpadu jadi satu.
Secara harfiah, Atiraja dapat berarti “hati yang meraja” atau nan-agung. Mengandung pesan tentang keteguhan prinsip dan permohonan perlindungan kepada Sang Maha Pencipta.
Bait-bait Atiraja sarat dengan petuah leluhur. Bahwa manusia agar senantiasa mengingat kepada sumber kehidupan Yang Maha Besar atau Maha Raja.
Lantas, akankah Sailong dan Atiraja telah terkubur bersama jasad Sang Maestro kita itu?
Kita sepakat, tentu tidak demikian adanya. Berbagai cara yang sudah dan sedang dilakukan oleh beragam pihak dan komunitas. Semua demi lestarinya budaya seni Musik Makassar.
Lestari Lewat Jazz. Tiga kata berjuta makna. Sailong, Atiraja, Ho Eng Djie. Tiga elemen selaksa asa.
Adalah Mangara Jazz Project, yang membidani kelahiran tiga frasa itu. Kelompok musik jazz di Makassar ini mencoba meneruskan apa yang pernah dilakukan oleh para pendahulu. Dari Jack Lesmana, Bubi Chen, Joe Zawinul hingga John McLaughlin. Mereka telah berupaya merawat dan melestarikan irama Latin dan African sounds melalui pohon jazz dan menambah khazanah cabang jazz fusion.
Dengan motor Andi Mangara, MJP ikut melestarikan kelong-kelong Mangkasara’ milik Ho Eng Djie dengan merilis empat album dalam kepingan cakram kompak:
Live at Fort Rotterdam (2011), Sanrapang (2014), The 2nd Sanrapang (2015), dan The Sounds of Makassar (2025).
Ada pula dua single yang sedang dalam proses rilis. Mammiri The Tunes dan Espresso at Jazz House, judul lagu itu, sampai hari ini belum juga ada bocoran kapan ia akan menemui publik jazz tradisional di Makassar, sekaligus mengantarkan ruh, jiwa dan spirit Ho Eng Djie.
Seperti kata sebuah adagium: tak ada yang sia-sia, setiap langkah kecil adalah jalan panjang menuju arah yang sesungguhnya.
“Hanya itu, yang bisa kami lakukan. Demi terus menjaga tegaknya kepala dan sigapnya langkah kaki Djie,” tutup Andi Mangara, 23 Maret, di Makassar.
Harry Tryadi
Penikmat Jazz Tradisional. Tinggal di Makassar

Tinggalkan Balasan