MATASULSEL.ID, MAKASSAR — Bertepatan dengan momentum Hari Kasih Sayang, Yayasan Gaya Celebes (YGC) resmi melaksanakan Kick Off Program Girls Act – Berdayakan Perempuan Ubah Dunia.
Program ini merupakan kolaborasi bersama AHF Indonesia dan Kementerian Sosial Republik Indonesia sebagai bentuk komitmen memperkuat perlindungan dan pemberdayaan perempuan muda, khususnya di Kota Makassar.
Direktur YGC, Andi Akbar, menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak menjadi isu strategis dalam pembangunan berkelanjutan dan kemajuan bangsa.
Menurutnya, dalam konteks Indonesia, perempuan dan anak masih menjadi kelompok rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, stigmatisasi, diskriminasi, hingga eksploitasi.
“Perempuan muda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Namun tanpa perlindungan, edukasi, dan dukungan yang memadai, mereka kerap terjebak dalam kerentanan berlapis,” ujarnya.
Kerentanan tersebut semakin mengemuka seiring meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender, penyalahgunaan napza, serta ketimpangan akses pendidikan dan kesempatan bagi perempuan.
Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan DPPPA Kota Makassar, Hamna Faisal, ST., MM, menyampaikan bahwa kondisi ini menunjukkan urgensi penguatan edukasi hak-hak perempuan dan anak, termasuk isu kesehatan reproduksi seperti HIV/AIDS, menstruasi, Infeksi Menular Seksual (IMS), dan kekerasan berbasis gender.
Ia menambahkan, pelajar dan mahasiswa perempuan, khususnya dari keluarga kurang mampu, masih menghadapi keterbatasan akses informasi yang komprehensif dan layanan yang ramah remaja.
Minimnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi dan kekerasan berbasis gender kerap menempatkan mereka dalam posisi yang semakin rentan.
Kondisi ini sejalan dengan temuan Catatan Tahunan (CATAHU) 2024 dari Komnas Perempuan yang menunjukkan tren kekerasan berbasis gender belum mengalami penurunan signifikan.
Kelompok pelajar dan mahasiswa masih mendominasi sebagai korban maupun pelaku, sementara di ranah publik, Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) menjadi kasus yang paling banyak dilaporkan.
Kerentanan tersebut juga beririsan dengan agenda pencegahan dan penanganan HIV pada remaja.
Relasi tidak setara, tekanan sosial, serta paparan risiko di ruang digital dapat meningkatkan perilaku berisiko, menghambat akses layanan kesehatan, serta memperkuat stigma yang membuat remaja enggan melakukan tes, konseling, atau mencari pertolongan.
Senior Program Koordinator AHF Indonesia, Lusi Siagan, menjelaskan bahwa prioritas Girls Act tahun 2026 dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik pelajar dan mahasiswa melalui penguatan Pendidikan Seksualitas Komprehensif (Comprehensive Sexuality Education/CSE) yang aman dan relevan.
Program ini juga menghadirkan dukungan sebaya, mekanisme rujukan layanan ramah remaja, serta penguatan kepatuhan pengobatan (treatment adherence) dan keberlanjutan perawatan jangka panjang bagi anak perempuan yang hidup dengan HIV.
“Pendampingan psikososial, penguatan literasi kesehatan, dan jejaring multipihak di sekolah, kampus, serta fasilitas layanan kesehatan menjadi fokus utama agar tidak ada remaja perempuan yang tertinggal dalam akses layanan,” jelasnya.
Turut hadir sebagai narasumber, Lusia Palulungan, Direktur Rumah Mama, menyatakan bahwa tujuan program ini sangat strategis.
Melalui kegiatan Kick Off dan Capacity Building Girls Act Member, program ini menargetkan peningkatan kapasitas pelajar dan mahasiswa perempuan dalam pencegahan serta penanganan IMS/HIV dan kekerasan berbasis gender, termasuk KBGO.
Selain itu, Girls Act juga menyiapkan para anggotanya menjadi peer educator di sekolah dan kampus, memperkuat kepatuhan pengobatan serta keberlanjutan perawatan bagi anak perempuan yang hidup dengan HIV, serta—jika memungkinkan—melibatkan anak laki-laki dan orang tua dalam edukasi kesehatan seksual dan reproduksi untuk memperkuat dampak di tingkat komunitas.
Melalui Girls Act, YGC bersama para mitra berharap lahir generasi perempuan muda yang berdaya, berpengetahuan, dan berani bersuara.
Di Hari Kasih Sayang ini, pesan yang diusung menjadi jelas: memberdayakan perempuan bukan sekadar program, tetapi investasi jangka panjang untuk mengubah dunia.


Tinggalkan Balasan