Gebrak DPRD Kota Makassar!
Gerakan Baru Mahasiswa: “Bangkit dan Sadarlah, Mahasiswa Makassar!”MATASULSEL.ID, MAKASSAR — Demokrasi tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia tumbuh dari kegelisahan, dari keberanian untuk bersuara, dan dari kesadaran bahwa kekuasaan harus selalu diawasi. Di tengah demokrasi yang kian prosedural dan kehilangan daya gugahnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Ekonomi, dan Humaniora (BEM FISEH) Universitas Cokroaminoto Makassar memilih untuk tidak diam.
Melalui Pendidikan Demokrasi bertema “Meneguhkan Pondasi Demokrasi: Dari Sejarah Gerakan Hingga Peran Kampus dalam Mengawal Kekuasaan,” BEM FISEH menghidupkan kembali peran kampus sebagai ruang kritik dan pembentukan kesadaran politik.
“Kampus tidak boleh hanya melahirkan sarjana yang patuh, tapi warga negara yang berani berpikir dan bersuara. Demokrasi akan mati pelan-pelan jika mahasiswa kehilangan keberpihakan pada nalar kritis,” tegas Ketua BEM FISEH Universitas Cokroaminoto Makassar dalam pembukaan kegiatan.
Selama tiga hari, sembilan kelas diskusi menjadi ruang dialektika yang intens. Sejarah gerakan mahasiswa, dinamika transisi kekuasaan, hingga relasi problematik antara partai politik dan kedaulatan rakyat dibedah secara kritis. Diskusi tidak bergerak dalam romantisme masa lalu, melainkan dalam kegelisahan terhadap masa depan demokrasi Indonesia.
Menurut Ketua BEM FISEH, kegelisahan itu berangkat dari realitas politik yang semakin menjauh dari rakyat.
“Kita menyaksikan demokrasi yang berjalan, tapi tidak selalu menghadirkan keadilan. Partai politik sibuk dengan elektoral, sementara pendidikan politik dan kaderisasi justru terabaikan,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, peserta membaca gejala kemunduran institusional sebagaimana dikemukakan Francis Fukuyama—ketika institusi demokrasi kehilangan legitimasi karena lemahnya akuntabilitas dan rasionalitas. Namun pada saat yang sama, semangat Mikhail Bakunin terasa kuat: bahwa setiap kekuasaan yang tidak diawasi berpotensi menjadi tirani.
“Kami tidak sedang anti-negara atau anti-partai. Yang kami lawan adalah kekuasaan yang tidak mau dikritik. Demokrasi hanya sehat jika ada keberanian untuk menguji, bukan sekadar menerima,” lanjut Ketua BEM FISEH.
Dari proses dialektika itulah lahir rekomendasi tegas.
Pertama, penolakan terhadap skema pemilihan kepala daerah secara tidak langsung, yang dinilai mereduksi kedaulatan rakyat dan membuka ruang transaksi elit.
“Jika kedaulatan dipindahkan sepenuhnya ke ruang elite, maka rakyat hanya akan menjadi penonton dari demokrasi yang seharusnya mereka miliki,” tegasnya.
Kedua, desakan reformasi internal partai politik, terutama dalam kaderisasi, pendidikan politik, dan etika komunikasi publik.
“Partai politik harus kembali menjadi sekolah demokrasi, bukan sekadar kendaraan kekuasaan,” katanya.
Ketiga, penguatan peran kampus sebagai simpul pendidikan politik yang otonom dan kritis, termasuk membuka ruang uji publik bagi kader partai dalam forum akademik.
“Kampus harus menjadi ruang aman untuk menguji gagasan politik, bukan ruang yang dibungkam oleh kepentingan,” tambahnya.
Rekomendasi ini tidak berhenti sebagai dokumen internal. Secara resmi, hasil Pendidikan Demokrasi BEM FISEH Universitas Cokroaminoto Makassar telah diserahkan dan diterima oleh DPRD Kota Makassar—sebuah langkah yang menandai pertemuan antara gerakan intelektual mahasiswa dan ruang legislasi.
“Kami datang bukan untuk menggurui DPRD, tetapi untuk mengingatkan bahwa demokrasi adalah tanggung jawab bersama. Suara mahasiswa bukan ancaman, melainkan alarm bagi kekuasaan,” ujar Ketua BEM FISEH menegaskan.
Di sinilah makna terdalam dari gerakan ini. BEM FISEH tidak memilih jalan agitasi kosong, tetapi argumentasi. Tidak menutup diri dari dialog, namun juga tidak tunduk pada kekuasaan.
Apa yang berlangsung di Makassar hari ini adalah pengingat bahwa demokrasi bukan warisan yang selesai. Ia adalah proyek yang terus diperjuangkan. Kampus kembali menunjukkan dirinya sebagai penjaga nalar publik—tempat di mana kekuasaan diuji, bukan dipuja.
Dan ketika rekomendasi itu kini berada di meja DPRD Kota Makassar, satu pesan menjadi terang:
generasi muda tidak sedang meminta tempat dalam demokrasi. Mereka sedang mengambil tanggung jawab untuk merawatnya.


Tinggalkan Balasan