MAKASSAR — Kota Makassar tengah berada di persimpangan krusial dalam penanganan krisis sampah. Di satu sisi, tekanan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa kian menggunung, sementara di sisi lain rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) justru mengalami perubahan arah lokasi yang memicu perdebatan teknis dan strategis.
Akademisi teknik sekaligus praktisi lingkungan, Nasruddin Aziz, menilai bahwa perubahan lokasi pembangunan PSEL dari kawasan industri Jalan Ir. Sutami ke Tamangapa bukan sekadar persoalan administratif. Menurutnya, keputusan ini menyentuh aspek fundamental dalam perhitungan rekayasa, efisiensi ekonomi, hingga potensi risiko sosial di masa depan.
“Ini bukan hanya soal memindahkan titik koordinat, tetapi tentang memilih jalur paling efisien secara teknis atau justru berkompromi dengan pertimbangan non-engineering,” ujarnya.
Produksi Sampah Terus Meningkat
Dengan produksi sampah yang telah melampaui 1.000 ton per hari dan diproyeksikan mencapai 2.000 ton dalam satu dekade mendatang, kebutuhan akan solusi berkelanjutan menjadi semakin mendesak. PSEL dipandang sebagai jawaban strategis karena mampu mengubah sampah menjadi energi listrik sekaligus mengurangi beban TPA.
Namun, menurut Nasruddin, pemilihan lokasi menjadi kunci utama keberhasilan proyek ini.
Ia menegaskan bahwa kekhawatiran publik terhadap dampak bau dan kebisingan dari fasilitas PSEL sudah tidak relevan. Berdasarkan pengamatannya terhadap fasilitas milik Shanghai SUS Environment Co., Ltd. di Beijing dan Zhuhai, teknologi PSEL modern telah mengadopsi sistem tertutup yang higienis dan senyap.
“Fasilitasnya bahkan lebih menyerupai gedung perkantoran modern, bukan tempat pengolahan sampah,” jelasnya.
Ir. Sutami Dinilai Lebih Efisien
Secara teknis, lokasi di Jalan Ir. Sutami dinilai lebih unggul. Kedekatannya dengan Gardu Induk KIMA serta sumber air Sungai Tallo membuat kebutuhan infrastruktur pendukung menjadi lebih sederhana, efisien, dan berbiaya rendah.
Sebaliknya, jika proyek dipindahkan ke Tamangapa, tantangan teknis meningkat signifikan. Jalur transmisi listrik harus ditarik hingga hampir 10 kilometer menuju Gardu Induk Borongloe, yang berpotensi menimbulkan pembengkakan biaya dan kompleksitas sosial, terutama jika melewati kawasan permukiman padat.
“Penarikan kabel tegangan tinggi, baik udara maupun bawah tanah, bukan hanya mahal, tapi juga rawan konflik dengan masyarakat,” katanya.
Tantangan Air dan Infrastruktur
Selain transmisi listrik, ketersediaan air baku juga menjadi persoalan di Tamangapa. Tidak adanya sumber air besar di sekitar lokasi memaksa pengelola PSEL untuk mengoptimalkan sistem daur ulang air limbah secara mandiri, yang tentunya menambah kompleksitas operasional.
Jika tetap memilih Tamangapa, Nasruddin menekankan perlunya dukungan teknologi tinggi, seperti penggunaan kabel bawah tanah berkualitas, sistem pengolahan lindi yang sempurna, serta manajemen lalu lintas yang ketat.
Skenario Solusi dan Beban Biaya
Dalam skenario operasional yang dirancang, PSEL akan mengolah 1.000 ton sampah baru setiap hari, sembari mengurangi sekitar 300 ton sampah lama di TPA. Dengan pola ini, gunungan sampah di Tamangapa diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu sembilan tahun.
Meski dinilai sebagai solusi progresif, Nasruddin mengingatkan bahwa keberhasilan skenario tersebut sangat bergantung pada kekuatan struktur pembiayaan.
“Biaya interkoneksi yang meningkat akibat perpindahan lokasi adalah beban nyata yang tidak bisa diabaikan,” tegasnya.
Ujian Kepemimpinan dan Kebijakan
Lebih jauh, ia mempertanyakan alasan di balik perubahan lokasi yang sebelumnya telah disepakati secara teknis dan administratif. Menurutnya, proyek strategis seperti PSEL seharusnya berpijak pada akurasi data dan pertimbangan teknis, bukan sekadar keputusan politis.
“Jangan sampai energi yang dihasilkan dari sampah justru habis untuk menutup ketidakefisienan yang kita ciptakan sendiri,” ujarnya.
Di tengah urgensi penanganan sampah, Makassar dihadapkan pada pilihan penting: mengedepankan keberanian politik atau ketepatan teknis. Bagi Nasruddin, jawaban terbaik adalah menggabungkan keduanya dalam satu keputusan yang presisi.
Makassar tidak hanya membutuhkan solusi yang cepat, tetapi juga solusi yang tepat.

Tinggalkan Balasan