Penulis: Ferry Tass, S.H., M.Hum., M.Si, Dt. Toembidjo

Senja selalu datang dengan cara yang aneh. Ia tidak hanya menurunkan cahaya, tetapi juga membuka ruang dalam pikiranku. Pada jam-jam seperti ini, hidup ingin kutelungkupkan dan kutelentangkan kembali, seperti membaca surat lama yang tulisannya mulai pudar, tetapi maknanya justru semakin dalam.

Bukan karena aku kurang bersyukur atas nikmat-Nya—bukan itu. Hanya saja, perjalanan ini terlalu kaya akan tikungan. Terlalu banyak simpang, terlalu sering berguncang, dan jarang benar-benar lurus tanpa gangguan. Sejak awal aku tahu, langkahku tak pernah ringan.

Hidup kujalani seperti mengayuh becak di jalan menanjak. Lambat, Berat, Kadang nyaris berhenti. Karier kutempuh dengan lutut yang gemetar dan napas yang sering tercekat. Aku tidak pernah pandai melompat jauh atau memotong jalan. Semua tikungan, lorong-lorong sempit, dan jalan terjal harus kulewati, satu demi satu, meski roda sering berderit dimakan waktu.

Yang kupunya hanya keyakinan kecil: pelan, tetapi tidak berhenti. Alon-alon asal kelakon. Aku belajar sabar walau hati sering menggerutu, belajar tabah meski gelisah datang seperti hujan yang tak diundang. Di titik itulah aku menggantungkan diri pada tawakal, menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai satu-satunya modal saat tenaga terasa habis.

“Namun ada hari-hari ketika aku merasa seperti becak kosong. Terus kudayung, tetapi sepi dari penumpang. Bergerak, tetapi seperti tak sampai. Kesunyian itu kadang melahirkan frustasi yang sangat manusiawi. Ia datang tiba-tiba, menutup mata batin, membuat dunia tampak tak adil.”

Aku berserah, tetapi tidak berhenti. Aku berharap, tetapi tidak membiarkan diriku diam. Ikhtiar tetap kugenggam, sambil sadar bahwa pada akhirnya takdirlah yang menutup cerita. Saat mataku menunduk ke bawah, dadaku sering bergetar.

Di luar sana masih banyak yang melata dalam sunyi, mengejar hari dengan tubuh yang kian rapuh, bergerak tetapi tak kuasa, berharap uluran tangan di tengah usia yang terus berlari. Di hadapan mereka, aku mengerti: aku telah terlalu banyak diberi. Maka bibirku pun bergetar menyebut syukur. Alhamdulillah wasyukrillah. Aku sampai juga di titik ini.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri: siapakah aku sebenarnya? Seperti petuah lama: tepuklah dada, tanya selera; ukur bayang-bayang sepanjang badan. Aku teringat asal-usulku. Orang tuaku hanyalah petani kecil di kampung, menanam harap di hamparan sawah yang tak luas. Kami bukan keluarga berada. Hidup kami sederhana, bahkan sering pas-pasan. Dari tanah itulah aku belajar tentang sabar dan kerasnya musim.

Dari kesederhanaan itu pula aku pernah berdiri sendiri sebagai jaksa di sebuah kecamatan. Langkahku dibentuk oleh perjuangan, keringat, dan air mata. Hingga suatu hari, “bintang” bisa kupatri di pundak yang perlahan menua.

Aku tahu, itu bukan semata hasil dayaku. Itu adalah rahmat yang Tuhan sisipkan diam-diam di sepanjang jalan. Bukankah Dia telah mengingatkan: Fabiayyi ālā’i rabbikumā tukadzdzibān — ayat yang diulang tiga puluh dua kali, seolah mengetuk nurani agar aku tak lupa menghitung nikmat di sela-sela luka.

Terima kasih, ya Allah. Terima kasih atas doa keluarga, kepedulian para pimpinan, dan sahabat-sahabat yang setia membersamai langkahku. Semoga perjalananku bermuara lembut: pensiun yang soft landing, dan setiap jejak yang kutinggalkan dapat ditimbang sebagai amal saleh di hadapan-Mu.

Di sisa usia, biarlah semangat tetap menyala, meski kecil. Demi panji-panji Adhyaksa yang pernah kujaga di dunia fana. Karena pada akhirnya, bukan jabatan yang tinggal, bukan pula nama, melainkan keberadaan kita di alam sana—dalam doa, dalam lindungan-Nya.

Dan aku, di ujung senja ini, masih mengayuh becak kosong itu. Pelan., Sunyi., Namun penuh harap. (*)