JAKARTA — Menjelang Hari Kartini, sebuah potret diam-diam terungkap: perempuan Indonesia berdiri kokoh sebagai penopang keluarga, namun sering kali mengorbankan diri sendiri di balik layar.
Survei terbaru Sun Life mengungkap, dari sekitar 142 juta perempuan Indonesia, banyak yang memilih menunda kesehatan dan kesiapan finansial demi memastikan keluarga tetap berjalan.
Data menunjukkan, 57% perempuan pernah mengabaikan perawatan medis demi anak atau orang tua. Pengorbanan ini tidak berhenti di situ.
Sebanyak 82% mengurangi pengeluaran pribadi seperti rekreasi, 30% membatasi peluang investasi, dan 28% menunda tabungan pensiun.
Di sisi lain, biaya kesehatan yang tinggi menjadi batu sandungan utama bagi 51% responden dalam mencapai keamanan finansial.
Fenomena ini menggambarkan realitas yang getir: menjaga keluarga sering berarti mengorbankan diri sendiri.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menilai temuan ini sebagai pengingat penting di momen Hari Kartini. Ia menegaskan bahwa perempuan Indonesia menunjukkan ketangguhan luar biasa, sering kali berkorban tanpa diminta.
Namun, menurutnya, peran besar ini harus diimbangi dengan dukungan nyata agar perempuan tetap bisa menjaga keluarga tanpa kehilangan masa depan mereka.
Survei juga menyoroti kuatnya fenomena sandwich generation. Sebanyak 96% perempuan memperkirakan akan menanggung perawatan orang tua di masa kini maupun mendatang, tetapi hanya 26% yang telah menyisihkan minimal 10% pendapatan untuk kebutuhan tersebut.
Akibatnya, muncul tekanan berlapis atau triple penalty: 59% merasa tanggung jawab pengasuhan menghambat keamanan finansial, 47% berdampak pada karier, dan 47% mengurangi kemampuan merawat diri sendiri.
Di tengah tekanan tersebut, perempuan justru memegang kendali penting dalam keuangan keluarga.
Sebanyak 62% menjadi pengambil keputusan utama, bahkan melonjak hingga 92% bagi mereka yang menjadi tulang punggung keluarga. Ironisnya, hanya 13% yang melibatkan penasihat keuangan profesional.
Meski 63% perempuan merasa kondisi finansial mereka lebih baik dibanding generasi ibu mereka, hanya 19% yang merasa benar-benar siap menghadapi kejadian finansial tak terduga.
Ini menunjukkan adanya celah besar antara peran yang dijalankan dan kesiapan menghadapi masa depan.
Albertus menekankan pentingnya akses terhadap perencanaan keuangan yang lebih relevan dan mudah dijangkau.
Dengan dukungan yang tepat, perempuan diharapkan tidak hanya menjadi penjaga keseimbangan keluarga, tetapi juga mampu membangun fondasi finansial yang kuat dan berkelanjutan.
Riset ini melibatkan 3.001 responden di enam pasar Asia pada Januari 2026, termasuk Indonesia, untuk menggali aspirasi, perilaku, dan tantangan perempuan dalam membangun keamanan finansial jangka panjang.
Di balik angka-angka tersebut, tersimpan satu pesan yang jelas: perempuan Indonesia bukan hanya penopang keluarga, tetapi juga pahlawan yang sering lupa menjaga dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan