MAKASSAR – Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti Ballroom Hotel MaxOne Makassar pada Minggu (5/4), saat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Keluarga Masenrempulu (Hikma) Kecamatan Manggala menggelar Halal Bihalal Keluarga Besar.

Mengusung tema “Sinergi, Harmoni, dan Kolaborasi”, kegiatan ini menjadi titik temu rindu sekaligus ruang memperkuat ikatan warga asal Enrekang yang bermukim di Manggala pasca Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

Ratusan warga Masenrempulu hadir, memenuhi ruangan dengan nuansa kebersamaan yang kental.

Tak sekadar ajang temu kangen, kegiatan ini juga menjadi panggung konsolidasi organisasi untuk mempertegas peran Hikma dalam pembangunan di tingkat kecamatan hingga Kota Makassar.

Sejumlah tokoh penting turut hadir, mulai dari jajaran pengurus DPP, DPW, hingga DPD Hikma, perwakilan Pemerintah Kota Makassar seperti Kepala Dinas Pertanahan, Camat dan Lurah Manggala, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, hingga para sesepuh Masenrempulu.

Ketua DPC Hikma Manggala, Ramli Mannang, dalam sambutannya menegaskan bahwa tema yang diangkat bukan sekadar slogan, melainkan arah gerak bersama.

“Melalui sinergi dan harmoni, kita ingin menghadirkan kolaborasi yang nyata. Tidak hanya memperkuat internal Hikma, tetapi juga memberi kontribusi positif bagi masyarakat Manggala secara luas,” ujarnya.

Momentum kebersamaan semakin terasa dalam sesi ramah tamah dan makan siang bersama.

Tawa dan cerita mengalir, seakan menjahit kembali benang-benang silaturahmi yang sempat renggang oleh jarak dan kesibukan.

Acara juga diisi tausiyah singkat yang mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai sumber keberkahan dan kekuatan umat. Nilai-nilai inilah yang diharapkan terus menjadi fondasi dalam setiap langkah organisasi.

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Halal Bihalal ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya program-program strategis DPC Hikma Manggala ke depan.

Fokusnya jelas: penguatan sektor sosial, pemberdayaan ekonomi, serta peningkatan kualitas pendidikan bagi anggota dan masyarakat sekitar.

Di tengah riuh rendah kota, pertemuan ini menjadi semacam “rumah pulang” — tempat identitas, persaudaraan, dan harapan masa depan dirawat bersama.