BULUKUMBA – Suasana Syawal 1447 H di Masjid Islamic Center Dato’ Tiro, Ahad (5/4/2026), terasa lebih dari sekadar hangatnya silaturahmi. Gema takbir yang menggema dalam Tabligh Akbar Nasional Wahdah Islamiyah berubah menjadi panggung seruan nurani.
Di hadapan ribuan jamaah, Muhammad Zaitun Rasmin mengobarkan pesan tajam: umat tak boleh sekadar menjadi penonton saat Al-Aqsha terluka.
Mengawali tausiyahnya, Kyai Zaitun mengangkat isu penutupan Masjid Al-Aqsa yang disebutnya sebagai luka mendalam bagi umat Islam dunia.
Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar kabar jauh di seberang, melainkan duka kolektif yang seharusnya menggugah kepedulian.
“Ini bukan berita biasa. Ini kesedihan kita bersama,” tegasnya, menggugah kesadaran jamaah yang memadati masjid.
Namun di balik seruan itu, ia juga menyampaikan kegelisahan. Menurutnya, respons sebagian umat Islam terhadap penderitaan di Gaza masih jauh dari harapan.
Sikap diam dan ketidakpedulian justru menjadi tantangan terbesar, meski fakta penindasan telah terbuka sejak Ramadan lalu.
“Yang menyedihkan bukan hanya peristiwanya, tapi ketika umat memilih diam,” ujarnya.
Dari isu Palestina, Kyai Zaitun memperluas pandangan ke dinamika geopolitik Timur Tengah. Ia mengingatkan agar semangat membela kemanusiaan tidak terdistorsi oleh konflik internal antarnegara muslim.
Menyinggung ketegangan Iran dan negara-negara Teluk, ia menekankan pentingnya fokus perjuangan pada melawan penjajahan, bukan memperuncing perpecahan.
Dengan perumpamaan tajam, ia membandingkan serangan yang menyasar sesama wilayah muslim dengan tindakan Zionis di Gaza, seraya mengajak umat untuk menilai persoalan dengan kacamata ketakwaan, bukan emosi.
“Keadilan harus tetap dijaga, bahkan kepada pihak yang berbeda dengan kita,” pesannya.
Lebih jauh, Ketua MUI Bidang Ukhuwah ini mengajak umat bersikap objektif, termasuk dalam menyikapi perbedaan mazhab.
Menurutnya, menjaga akidah adalah hal mendasar, tetapi tidak boleh menghapus keadilan dan empati terhadap sesama muslim.
Seruan itu kemudian bermuara pada dukungan terhadap langkah konkret.
Ia menegaskan bahwa Wahdah Islamiyah mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam misi perdamaian dunia, termasuk kemungkinan pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza sebagai bagian dari kontribusi kemanusiaan.
“Ini bagian dari jihad kemanusiaan yang patut dibanggakan,” tuturnya.
Namun, Kyai Zaitun mengingatkan bahwa perjuangan besar selalu berakar dari hal-hal kecil.
Ia mengajak umat untuk menghidupkan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari: berbagi di masa sulit, menahan amarah, dan menjaga lisan.
Pesan itu juga menyentuh ranah internal organisasi. Ia meminta kader Wahdah Islamiyah untuk tetap tenang dalam menghadapi perbedaan, bahkan bersedia mengalah demi persatuan umat.
“Hati boleh panas, tapi kepala harus dingin,” ucapnya, mengibaratkan emosi sebagai api yang harus dikendalikan, bukan dibiarkan membakar.
Sebagai penutup, Kyai Zaitun menekankan pentingnya loyalitas pada kebenaran. Loyalitas itu, menurutnya, harus tegak pada Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus selaras dengan kepemimpinan ulama, pemerintah, serta dasar negara.
Seruan tersebut menjadi simpul dari seluruh pesannya: bahwa membela kemanusiaan tidak cukup dengan rasa, tetapi harus diwujudkan dalam sikap adil, persatuan, dan aksi nyata.
Di Bulukumba, semangat siri’ na pacce kembali digelorakan bukan hanya sebagai nilai budaya, tetapi sebagai energi moral untuk bergerak bersama.

Tinggalkan Balasan