JENEPONTO – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan ibadah shalat Jumat di Masjid Ridha Allah Kalukuang, Kelurahan Balang Toa, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto pada Jumat (27/03/2026) atau bertepatan dengan 8 Syawal 1447 H.

Dalam kesempatan tersebut, ust. Salihuddin, S.Ag. yang bertindak sebagai khatib, menyampaikan khutbah inspiratif bertema “Menjaga Nyala Ibadah Setelah ‘Bulan Madu’ Spiritual Berlalu”. Di hadapan ratusan jamaah, beliau menekankan pentingnya menjaga konsistensi (istiqomah) ibadah pasca-Ramadan.

Dalam uraiannya, Salihuddin memantik kesadaran jamaah dengan merujuk pada Surah An-Nahl ayat 92. Ia mengibaratkan orang yang meninggalkan ibadah setelah Ramadan seperti seorang perempuan yang bersusah payah memintal benang dengan kuat, namun kemudian mengurainya kembali hingga cerai-berai.

“Ramadan adalah madrasah tempat kita memintal keshalihan. Sangat disayangkan jika di bulan Syawal ini, istana spiritual yang telah kita bangun selama sebulan penuh justru kita robohkan sendiri dengan kembali menjauhi masjid dan melalaikan ketaatan,” ujar Salihuddin dalam khutbahnya.

Lebih lanjut, khatib yang juga dikenal sebagai praktisi pendidikan ini mengutip pesan tajam dari ulama besar Bisyr Al-Hafi, yang menyebutkan bahwa seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadan saja.

“Tanda diterimanya amalan seseorang adalah ketika ia mampu menyambung satu ketaatan dengan ketaatan berikutnya. Syawal adalah bulan pembuktian, apakah kita hamba yang Rabbani (setiap saat) atau sekadar hamba yang Ramadani (musiman),” tambahnya mengutip kitab Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali.

Di akhir khutbah, ust. Salihuddin mengajak jamaah Masjid Ridha Allah Kalukuang untuk menerapkan tiga strategi istiqomah, yakni menjaga shalat fardhu berjamaah, merutinkan tilawah Al-Qur’an meski sedikit, serta menyempurnakan ibadah dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Pelaksanaan ibadah shalat Jumat di Masjid Ridha Allah Kalukuang ini berjalan lancar dan diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan keteguhan iman bagi seluruh umat muslim pasca-Ramadan 1447 H. (*)