MATASULSEL.ID, MAKASSAR – Provinsi Sulawesi Selatan mencatat laju inflasi 0,47 persen pada Januari 2026 (month-to-month/mtm), menurun tipis dibandingkan realisasi Desember 2025 yang sebesar 0,49 persen.

Namun secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Sulsel tetap relatif tinggi yakni 4,11 persen, melampaui angka inflasi nasional yang berada di 3,55 persen (yoy).

“Inflasi Sulsel pada Januari 2026 tumbuh 0,47 persen secara bulanan yang lebih rendah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, tetapi tekanan harga secara tahunan masih di atas nasional,” ujar Rizki E. Wimanda, Pimpinan Wilayah Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan, pada bincang bareng media di Makassar, Sabtu (20/2/2026).

Pergerakan Inflasi Selama 2025 hingga Jan 2026

Rizki menjelaskan, jika dilihat secara lebih luas, tren inflasi tahunan di Sulsel bergerak meningkat sejak pertengahan tahun 2025.

“Sepanjang 2025, inflasi tahunan mengalami peningkatan yang konsisten sejak Maret hingga Desember, yang kemudian berlanjut ke Januari 2026 di angka 4,11 persen. Kenaikan ini menunjukkan adanya sejumlah tekanan harga, terutama dari komoditas pangan dan energi,” terang Rizki.

Meskipun begitu, kata dia, capaian inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) relatif terkendali di angka 0,47 persen hingga Januari 2026, lebih rendah dibanding capaian ytd akhir tahun lalu.

Faktor Penyebab Inflasi di Sulsel

Menurut Rizki, beberapa faktor utama yang mempengaruhi laju inflasi di Sulsel pada awal tahun antara lain:

Peningkatan permintaan masyarakat setelah libur akhir tahun.

Perubahan harga beberapa bahan pokok, terutama komoditas yang dipengaruhi musim dan pasokan.

Kenaikan harga energi tertentu, sejalan dengan harga global dan penyesuaian domestik.

“Meski ada tekanan, kami melihat stabilitas pasokan di pasar relatif terjaga sehingga inflasi tidak melonjak tajam,” tambahnya.

Inflasi Spasial: Kota dan Kabupaten di Sulsel

Bank Indonesia mencatat perkembangan inflasi di sejumlah kota/kabupaten Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sulsel pada Januari 2026 sebagai berikut:

  1. Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) – inflasi 1,39 persen (mtm), inflasi tahunan tertinggi 5,63 persen (yoy).
  2. Kota Parepare – inflasi 0,47 persen (mtm), yoy 5,04 persen.
  3. Kabupaten Bone – inflasi 0,91 persen (mtm), yoy 4,33 persen.
  4. Kota Palopo – inflasi 0,37 persen (mtm), yoy 4,14 persen.
  5. Kabupaten Luwu Timur – inflasi 0,34 persen (mtm), yoy 4,30 persen.
  6. Kabupaten Wajo – inflasi 0,34 persen (mtm), yoy 4,17 persen.
  7. Kota Makassar – inflasi 0,37 persen (mtm), yoy 3,82 persen.
  8. Kabupaten Bulukumba – inflasi 0,29 persen (mtm), yoy 4,13 persen.

Rizki menambahkan, perbedaan laju inflasi antar wilayah menunjukkan dinamika permintaan dan pasokan lokal yang berbeda, salah satunya dipengaruhi pola konsumsi masyarakat dan distribusi logistik.

Tantangan dan Langkah Pengendalian Inflasi

Rizki mengungkapkan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan otoritas terkait terus memperkuat koordinasi pengendalian harga.

“Ke depan, fokus kami adalah menjaga stabilitas harga menjelang musim permintaan tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri. Ini meliputi penguatan pasokan pangan, pengawasan distribusi, serta kerja sama dengan pemangku kepentingan,” katanya.

Proyeksi dan Harapan ke Depan

Rizki menegaskan bahwa meskipun terdapat tekanan harga, Sulsel tetap berada pada jalur stabilitas yang dapat dikendalikan jika koordinasi terus terjaga.

“Kami memperkirakan inflasi akan tetap dalam rentang target sepanjang tahun 2026 dengan sinergi kebijakan yang kuat,” tutup Rizki E. Wimanda.