MATASULSEL.ID, MAKASSAR – Bank Indonesia wilayah Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) di Provinsi Sulawesi Selatan pada Januari 2026 mencapai 4,11 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,55 persen.

Berdasarkan rilis resminya di akun Instagram, perkembangan inflasi Sulsel pada Januari 2026 juga menunjukkan inflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,47 persen serta inflasi tahun kalender (year to date/ytd) sebesar 0,47 persen.

Angka tersebut mencerminkan adanya tekanan harga pada awal tahun, seiring peningkatan permintaan dan dinamika pasokan di sejumlah kelompok pengeluaran.

Sementara itu, secara nasional, inflasi pada Desember 2025 tercatat sebesar -0,15 persen (mtm) dan -0,15 persen (ytd), dengan inflasi tahunan sebesar 3,55 persen (yoy).

Kondisi ini menunjukkan bahwa laju inflasi Sulawesi Selatan masih berada di atas rata-rata nasional.

BI Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa pada Januari 2026, provinsi ini mengalami realisasi inflasi sebesar 0,47 persen (mtm).

Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Sulsel tercatat 4,11 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan capaian inflasi nasional.

Secara spasial, inflasi di Sulawesi Selatan didorong oleh wilayah yang mengalami inflasi di atas 0,29 persen, di samping daerah dengan inflasi di bawah 0,29 persen, sementara sebagian wilayah lainnya tercatat sebagai daerah non-sampel inflasi.

Kenaikan inflasi ini diperkirakan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain penyesuaian harga bahan pangan, komoditas musiman, serta peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat di awal tahun.

Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

BI Sulsel menegaskan bahwa pemantauan inflasi akan terus dilakukan secara berkala sebagai dasar perumusan kebijakan pengendalian inflasi di daerah, guna memastikan stabilitas ekonomi Sulawesi Selatan tetap terjaga sepanjang tahun 2026.